Tuesday, May 19, 2009

dipileeh...dipileeh...

Masih terkait soal 'Pemilihan'...Pileg dah lewat, sekarang pilpres.

Beberapa hari ini media massa penuh dengan diskusi, debat, dan 'kampanye terselubung' baik dari capres-cawapres maupun pendukung/ penentangnya. Salah satu yang --menurutku-- paling menyolok adalah diskusi tentang cawapres "Boediono". Mulai dari 'desas-desus' bahwa SBY akhirnya memilih cawapres-nya dari non-partai yang menimbulkan banyak komentar pro-kontra, obrolan tentang kemungkinan bubarnya koalisi dan perpecahan di dalam partai antara yg mendukung dan tidak mendukung pilihan cawapres-nya SBY, dll.

Salah satu poin yang membuat tanganku gatal untuk menulis adalah munculnya berbagai komen, kritik, dan ulasan tentang Pak Boediono, cawapres dari non-partai yang akhirnya dipilih oleh SBY.
Komentar dan kritik paling banyak adalah bahwa Pak Boed ini penganut (bahkan ada yg bilang 'fanatik') aliran ekonomi "neo-liberal", antek IMF, tidak pro-rakyat...dan ujung2nya tidak 'pantes' jadi cawapres.

Well...aku tidak paham banyak tentang ilmu ekonomi, tidak suka juga dengan intrik2 dunia politik.
Aku tidak kenal Pak Boediono secara pribadi, cuma tau pak Boed waktu dulu (semasa masih jadi menteri) masih sesekali mengajar di Fakultas (tempat aku bekerja). Yang terekam di ingatanku adalah Pak Boed yang sangat-sangat sederhana ---untuk ukuran seorang pejabat sekelas menteri---. Dengan sedan tua warna merah, pak Boed masih sesekali mengajar di FE. Sama sekali tidak tampak seperti seorang "menteri" yang biasanya terkesan "mentereng".

Memang benar, tampak luar yang 'sederhana' ini tidak bisa menjadi dasar acuan untuk menilai bahwa Pak Boed ini ekonom yg pro atau tidak pro ekonomi kerakyatan atau neoliberalisme.
Lagipula, aku tidak yakin dari sekian banyak orang yang protes tentang "pak Boed yg neo-liberal" itu adalah mereka yang benar2 paham tentang permazhaban sistem perkonomian yg ada (aku termasuk yang hanya tau 'neoliberalisme' sebatas paham ekonomi --bisa juga politik-- yang menolak/ mengurangi campur tangan pemerintah).
Dan seperti semua paham yang ada, neoliberal ini juga punya sisi baik dan buruk (tergantung dari sisi mana kita menempatkan diri dan memandang mazhab tersebut). Baiknya mungkin bisa memacu kreatifitas dan kompetisi pelaku perekonomian. Buruknya mungkin kalo "kebablasan bebas" akan ada pihak2 yang sama sekali tidak mampu mengikuti kompetisi yang ada.

Dan menjawab kritik ini, Pak Boed dalam beberapa wawancara kemarin menyebutkan "perlu kontrol yang tegas dan benar dari pemerintah" (dalam menghadapi pasar bebas yang mau-tidak-mau memang menjadi suatu kondisi yang harus dihadapi oleh semua negara, termasuk kita di Indonesia).

Nggak berpanjang2 membahas masalah neo-liberal yang bukan bidangku (salah-salah malah aku nanti menulis hal2 yang keliru :D), back to my reason of writing this post:

Yang bikin aku salut dengan kesediaan pak Boed untuk dicalonkan jadi cawapres adalah: pertama, Pak Boed tidak mewakili partai tertentu: partai2 yang ada, yang aku lihat, lebih banyak mementingkan jabatan, bagi2 kekuasaan, membesarkan partai...urusan "membela kepentingan rakyat" entah ada di urutan keberapanya. Kalo memang mau "berbuat baik" demi bangsa dan negara kan tidak harus dengan jadi caleg, capres-cawapres, atau jabatan tertentu. Ini opiniku.

Kedua, kalo lihat gaji gubernur BI yang --geleng2.mode.on-- 165jt/bulan, dan gaji wapres yg "hanya" 49jt/bulan...aku pikir pak Boed bukannya mau
cari duit kan dengan jadi cawapres. Ketiga, kalo memang kita tidak suka dengan salah satu kandidat capres-cawapres, kan tinggal pilih pasangan capres-cawapres yg lain...gak usah menjelek2an salah satu pasangan-kandidat tertentu. Again, this is just my humble opinion...

We never know what's inside other people's head ^___^

2 comments:

Anonymous said...

udah netapin calon yang bakal dipilih nih, aku sendiri belum ada yang sreg...

ade ferianty said...

hehehe...kalo aku ikut milih berarti ini yg pertama lho ^___^ biasanya golput.

tapau kabar Fet?